Pengolahan Air Asam Tambang (Bagian 1)

Metode Pengolahan Air Asam Tambang

Pengolahan Air Asam Tambang (AAT) dilakukan jika memang pembentukan AAT tidak bisa dihindari lagi. Banyak cara untuk melakukan pencegahan dan yang banyak dilakukan beberapa perusahaan tambang lebih ke arah engineering tambang, misalnya dengan Pengkapsulan (penghalangan fisik) yaitu batuan PAF (Potential Acid Forming) diselimuti (dihalangi) dengan batuan NAF (Non Acid Forming) agar tidak kontak dengan air (dari air hujan) dan oksigen (dari udara) sehingga reaksi pembentukan air asam tambang bisa dicegah.

Metode Pengolahan Air asam Tambang dibedakan menjadi 2 (dua) jenis:

  1. Active Treatment – penambahan bahan penetral (biasanya kapur)

    2. Passive Treatment – misalnya wetland

Continue reading

Hemat Air sebagai Peringatan Hari Air Dunia 2017

Hari Air Dunia diperingati setiap tanggal 22 Maret, tepat hari ini untuk tahun 2017. Para praktisi lingkungan biasanya selalu ada acara dalam memperingati Hari Air Dunia ini. Biasanya dengan perlombaan-perlombaan di institusi masing-masing baik lomba menghemat air, lomba foto, lomba membuat poster yang berbau penghematan air, dll.
Menurut saya pribadi, ada yg jauh lebih penting dibanding perayaan/perlombaan. Apa itu? Kesadaran seluruh masyarakat untuk mulai menghemat penggunaan air, yang mana masih banyak masyarakat kita yang kurang aware terhadap masalah air. Misalnya : kita masih bisa menemukan penggunaan air bersih di rumah-rumah masih boros. pembiaran kebocoran pipa air PAM, pembuangan sampah ke sungai atau pembuangan limbah ke sungai di atas baku mutu sehingga mencemari air baku yang dibutuhkan.

Air Asam Tambang (Bagian 2)

Peraturan Pengelolaan Air Asam Tambang di Pertambangan Batubara adalah mengacu ke KepMenLH No. 113 tahun 2013 tentang Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Pertambangan Batubara. Adapun Pasal dan Ayat yang mengatur tentang pengelolaan air asam tambang adalah sebagai berikut :

Pasal 6

Setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan pertambangan wajib melakukan pengolahan air limbah yang berasal dari kegiatan penambangan dan air limbah yang berasal dari kegiatan pengolahan/pencucian, sehingga mutu air limbah yang dibuang ke lingkungan tidak melampaui baku mutu air limbah yang telah ditetapkan dalam lampiran Keputusan ini.

Pasal 7

Setiap penanggung jawab usaha dan atau kegiatan pertambangan batu bara wajib mengelola air yang terkena dampak dari kegiatan penambangan melalui kolam pengendapan (pond).

Continue reading

Air Asam Tambang (Bagian 1)

 Air Asam Tambang 
adalah Air yang berasal dari kegiatan tambang terbuka atau tambang bawah tanah atau timbunan bijih atau batubara yang dicirikan oleh keasaman yang tinggi (pH rendah) dengan peningkatan logam terlarut. Terbentuk ketika mineral sulfida tertentu terpajan (exposed) pada suatu kondisi oksidasi dan mengalami perlindian (leching).
 Reaksi Pembentukan Air Asam Tambang
yang umum terjadi adalah sbb :
 4 FeS2 + 15 O2 + 14 H2O —– > 4 Fe(OH)3 ↓ + 8 H2SO4
 
Air Asam Tambang terbentuk karena ada 3 unsur pembentuk Air Asam Tambang yang bertemu, mirip seperti teori segitiga Api. Unsur pembentuk Air Asam Tambang yaitu :
1. Sulfida (dari batuan/mineral sulfida)
2. Air (dari air hujan)
3. Oksigen (dari udara)

Simbol dan Label Limbah B3

Definisi Simbol dan Label Limbah B3

Simbol Limbah B3 adalah gambar yang menunjukkan karakteristis limbah B3.

Label Limbah B3 adalah setiap keterangan mengenai limbah B3 yang berbentuk tulisan yang berisi informasi penghasil, alamat penghasil, waktu pengemasan, jumlah dan karakteristik limbah B3.

Continue reading

Identifikasi Limbah B3

Definisi Limbah B3

Menurut Peraturan pemerintah No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3, Limbah B3 adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3).

Identifikasi Limbah B3

Sebelum melakukan pengelolaan limbah B3 lebih lanjut,  langkah pertama yang harus dilakukan adalah identifikasi limbah B3. Langkah ini untuk menentukan ada berapa jenis limbah B3 yang kita hasilkan yang mana kita sebagai penghasil wajib melakukan pengelolaan terhadap limbah B3 yg kita hasilkan tersebut dan untuk menghindari adanya limbah B3 yang tidak terkelola karena tidak ada dalam list (daftar) limbah B3 yang kita hasilkan. Continue reading

Peraturan Perundangan K3LH

Terdapat banyak peraturan perundangan yang terkait dengan pelaksanaan K3LH. Peraturan perundangan tersebut berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah,Keputusan Presiden, Keputusan Menteri, Peraturan Menteri serta Surat Edaran Menteri dan Peraturan Gubernur. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam menangani K3L.

Salah satu Undang-Undang yang terkait dengan K3 adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.Undang-undang ini merupakan pengganti undang-undang tentang K3 pada masa pemerintahan Belanda, yaitu Veiligheids Reglement Tahun 1910 (VR 1910 Stbl. 406). Undang-undang yang menangani lingkungan adalah Undang-Undang no 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pengganti UU no 23 tahun 1997.

Continue reading

Hasil Penilaian PROPER 2013 (KepMenLH No 349 Tahun 2013)

PROPER merupakan salah satu program unggulan KLH yang berupa kegiatan pengawasan dan pemberian insentif dan/atau disinsentifkepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Penghargaan PROPER bertujuan untuk mendorong perusahaan untuk taat terhadap peraturan lingkungan hidup dan mencapai keunggulan lingkungan. Hal ini dinilai dari diterapkannya integrasi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam proses produksi dan jasa,penerapan sistem manajemen lingkungan, 3R, efisiensi energi, konservasi sumber daya dan pelaksanaanbisnis yang beretika serta bertanggung jawab terhadap masyarakat melalui program pengembangan masyarakat.

 Pada periode 2012 – 2013 ini, hasil penilaian PROPER adalah :
Peringkat Emas berjumlah 12 perusahaan,
Peringkat Hijau berjumlah 113 perusahaan,
Peringkat Biru berjumlah 1039 perusahaan,
Peringkat Merah berjumlah 611 perusahaan,
Peringkat Hitam berjumlah 17 perusahaan.

Untuk lebih lengkapnya, silakan di lihat di : KepMenLH no 349 tahun 2013 Hasil PROPER 2013.

Persiapan Akreditasi Laboratorium

Akreditasi laboratorium merupakan pengakuan formal terhadap suatu laboratorium untuk melakukan kegiatan pengujian dan atau kalibrasi. Akreditasi dilakukan oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) yang mengacu ke SNI 19-17025-2008 dimana memuat klausal mengenai persyaratan manajemen dan persyaratan teknis. Untuk mendapatkan akreditasi, kedua persyaratan tersebut harus benar-benar disusun, direkam, disosialisasikan, dimengerti serta dilaksanakan dalam kegiatan sehari – hari laboratorium.

 

Persiapan Manajemen

Langkah awal untuk mempersiapkan manejemen dimulai dari pembuatan kebijakan mutu dan sistem mutu laboratorium berdasarkan pedoman/persyaratan SNI 19-17025-2008 . Dokumen tersebut terdiri dari Dokumen Panduan Mutu (PM), Prosedure Sistem Mutu (PSM), Instruksi Kerja (IK) baik alat maupun metode, dan formulir / rekaman ( mutu,teknis dan administrasi ). Continue reading

Validasi Metode

Apa itu Validasi Metode?

Validasi Metode merupakan hal yang wajib dilakukan untuk suatu metode yang dibuat (dikembangkan) sendiri atau mengadop tidak seluruhnya dari metode standar apabila akan digunakan di laboratorium. Untuk laboratorium yang telah menerapkan ISO 17025 mungkin validasi metode sudah tidak asing lagi. Namun terkadang pengertiannya secara detiil yang suka lupa.

Menurut ISO 17025:2005, Validasi Metode adalah :

Validasi : konfirmasi melalui pengujian dan pengadaan bukti objektif bahwa persyaratan tertentu untuk suatu maksud khusus dipenuhi (Klausul 5.4.5.1).
Bukti objektif : data pendukung eksistensi sesuatu atau kebenaran sesuatu.
Persyaratan : kebutuhan atau harapan yang dinyatakan, secara umum diterapkan dan menjadi keharusan.

Jadi, Validasi metode adalah proses pembuktian bahwa metode tersebut sesuai untuk maksud/tujuan tertentu. Proses validasi suatu metode biasanya sangat dekat dengan proses pengembangan suatu metode. Continue reading